Oleh: Ramadani Candra
(PassiveIncomeSaham)

Dalam dunia investasi tentu istilah right dan waran sudah tidak asing lagi untuk diperbincangkan. Namun bagi sebagian orang apalagi investor baru tentu istilah ini masih asing terdengar, padahal dua hal ini sangat penting untuk dipahami. Right dan waran merupakan produk derivatif yang sama – sama merupakan hak istimewa bagi seorang investor. Meski sama – sama hak, namun keduanya mempunyai perbedaan sehingga investor perlu memahami perbedaan keduanya.

RIGHT
Right di Indonesia sering dikenal dengan right issue atau HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu). Istilah ini bisa diartikan sebagai hak yang diberikan kepada pemegang saham (investor) lama untuk membeli saham pada harga tertentu dalam periode waktu tertentu. Investor lama yang dimaksud disini adalah investor yang sudah memegang suatu saham perusahaan sampai pada saat sebelum cumdate berakhir. Tujuan dari diterbitkannya right issue adalah emiten ingin menambah modal usaha baik untuk mengurangi beban hutang perusahaan maupun expansi perusahaan. Sehingga apabila sebuah perusahaan menerbitkan right issue maka saham yang akan diterbitkan akan ditawarkan terlebih dahulu kepada investor lama, biasanya harga yang ditawarkan juga dibawah harga pasar saat itu sehingga investor mempunyai keuntungan dapat menebus saham dengan harga yang lebih murah.
Karena bersifat hak maka investor bebas memilih untuk memanfaatkan hak tersebut atau memilih untuk tidak menebusnya. Apabila investor tidak ingin menebusnya maka saham tersebut akan ditawarkan/ dibeli oleh buyer standby/ pembeli yang sudah ditentukan yang biasanya berupa instansi. Tetapi dengan begitu kepemilikan saham dari investor tersebut akan terdelusi atau menurun persentasenya. Sebagai contoh :

PT OKEH akan melakukan right issue dengan harga pelaksanaan Rp 1.000 sedangkan harga saham saat ini Rp 1.500. Harga right untuk menebus saham adalah Rp 200. Maka apabila harga saham naik dalam waktu pelaksanaan menjadi Rp 1.700 maka investor yang menebus right akan mendapatkan keuntungan berupa capital gain karena investor tersebut dapat menebus saham PT OKEH dengan harga Rp 1.200 (Rp 200 untuk right, Rp 1.000 harga pelaksanaan). Sehingga investor mendapatkan untung Rp 500 dari capital gain. Namun apabila harga turun ke Rp 800 (dibawah harga pelaksaaan), maka biasanya investor tidak akan menukarkan right nya karena jika investor melakukan hal tersebut investor perlu membayar Rp 1.200, namun harga saat ini dibawah nominal tersebut sehinga investor akan rugi. Apabila investor tidak menukarkan rightnya investor hanya kehilangan Rp 200 untuk right nya.
Tetapi…
Apabila investor tidak menebus rightnya, maka kepemilikannya terhadap PT OKEH akan terdelusi. Ilustrasinya seperti ini, PT OKEH awalnya memiliki 1000 lembar saham dengan harga Rp 1.000/lembarnya. Maka kapitalisasinya sebesar 1.000.000. Nah karena membutuhkan modal untuk expansi maka PT OKEH menerbitkan right issue sebesar 1000 lembar saham lagi dengan harga Rp 800, berarti akan ada Rp 800.000 dana masuk ke PT OKEH dan total saham yang diterbitkan PT OKEH akan menjadi 2000 lembar. Investor A awalnya punya 500 lembar saham PT OKEH itu berarti ia memiliki 50% kepemilikan PT OKEH. Apabila Investor A tidak menebus right issue yang ditawarkan maka kepemilikan investor A terhadap PT OKEH akan berkurang (terdelusi) menjadi 25% karena investor A tetap memiliki 500 lembar saham, sedangkan jumlah saham yang beredar setelah right issue tidak lagi 1000 lembar tetapi 2000 lembar (500:2000 = 25%). Sebagai contoh salah satu perusahaan yang melakukan right issue.

*setelah right issue dapat dilihat di kepemilikan masyarakat bahwa jumlah saham naik namun persentase kepemilikannya turun

Lalu bagaimana agar tidak terdelusi? Sang investor apabila kepemilikan awalnya 50%, ia sebaiknya menebus right issue tersebut dengan proporsional kurang lebih 50% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam periode right issue sehingga persentase kepemilikannya akan tetap.
WARAN
Apabila right issue adalah hak yang diberikan kepada investor lama, maka berbeda dengan waran. Waran merupakan hak yang diberikan kepada investor umum (siapa saja, tidak harus investor lama) untuk membeli lembar saham dalam harga dan waktu yang ditentukan. Waran biasanya digunakan sebagai pemanis (sweetener) atau insentif kepada investor agar tertarik membeli saham perusahaan tersebut.
Mekanisme dalam transaksi waran kurang lebih sama dengan right issue. Apabila ingin menebus saham yang ditawarkan dalam periode perlaksanaan maka investor harus membayar harga untuk waran serta harga saham pelaksanaan (harga yang ditawarkan). Kita ambil contoh PT OKEH lagi.

PT OKEH akan melakukan waran dengan harga pelaksanaan Rp 1.000 sedangkan harga saham saat ini Rp 1500. Harga waran untuk menebus saham Rp 200. Maka apabila harga saham naik dalam waktu pelaksanaan menjadi Rp 1700 maka investor yang menebus waran akan mendapatkan keuntungan berupa capital gain karena investor tersebut dapat menebus saham PT OKEH dengan harga Rp 1.200 (Rp 200 untuk waran, Rp 1.000 harga pelaksanaan). Sehingga investor mendapatkan untung Rp 500 dari capital gain. Namun apabila harga turun ke Rp 800 (dibawah harga pelaksaaan), maka biasanya investor tidak akan menukarkan waran nya karena jika ia melakukan hal tersebut ia perlu membayar Rp 1.200, namun harga saat ini dibawah nominal tersebut sehinga ia akan rugi. Apabila ia tidak menukarkan waran nya ia hanya kehilangan Rp 200 untuk waran nya. Namun harga waran bisa menjadi lebih mahal.
Untuk menghitung harga wajar waran dapat dilakukan dengan rumus
Harga induk – harga eksekusi (harga yang ditawarkan saat waran)

Misalnya dengan contoh diatas, harga eksekusi Rp 1.000 harga induk Rp 1.500 maka harga wajar waran adalah Rp500 (Rp 1.500 – Rp 1.000) . Tetapi harga waran bisa menjadi lebih dari Rp 500, ini akibat dari proyeksi dimasa mendatang bahwa saham yang bersangkutan akan naik harganya. Misalnya akan naik menjadi Rp 2.500 maka harga waran bisa mencapai Rp 1.500. Naik turunnya harga waran berjalan seiring dengan naik turunya harga saham induk, namun dengan persentasi lebih besar. Apabila saham naik dari Rp 1.500 ke Rp 2.500 maka saham naik 66% sedangkan waran naik dari harga wajar Rp 500 menjadi Rp 1.500 maka persentase kenaikannya 200%. Dalam transaksi waran sendiri tidak diberlakukan autoreject dengan batas minimal Rp 50 sehingga dalam sehari harga waran bisa naik ratusan hinga ribuan persen tetapi juga bisa turun hingga Rp 1 sehingga sangat beresiko tinggi namun juga dapat menghasilkan imbal yang tinggi.
Berbeda dengan right issue yang kepemilikan terhadap perusahaan akan teedelusi ketika right tidak ditebus, dalam waran apabila tidak ditebus dalam waktu jatuh tempo kepemilikan tidak akan terdelusi hanya saja waran akan hangus.